Perempuan Cina Benteng Masa Kini
PADA 7 Januari 2007, Tempo menurunkan
laporan soal nasib perempuan Cina Benteng dalam
tulisan berjudul “Meretas Nestapa Sampai ke Taiwan”.
Kami menggali kisah para perempuan asal Tangerang itu yang memilih menjadi
pengantin pesanan pria Taiwan demi keluar dari tekanan kemiskinan.
Dalam
penelusuran yang dilakukan hingga Taiwan, kami menemukan bahwa perkawinan
tersebut menjadi semacam jalan pintas ekonomi. Uang mahar yang diterima
keluarga perempuan digunakan untuk berbagai kebutuhan mendesak, dari membayar
utang, memperbaiki rumah, hingga membiayai sekolah anggota keluarga. Bagi
keluarga yang hidup serba kekurangan, menikahkan anak perempuan dengan pria
Taiwan dapat dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.
Di sisi
lain, para pria Taiwan yang mencari istri juga bukan selalu berasal dari
kelompok ekonomi mapan. Mereka umumnya berasal dari kelas bawah yang kesulitan
mendapatkan pasangan di Taiwan. Situasi tersebut membuat posisi perempuan Cina
Benteng menjadi rentan. Sebagian dari mereka berangkat ke Taiwan dalam usia
relatif muda, dengan kemampuan bahasa yang terbatas dan tanpa pengetahuan
memadai mengenai kehidupan di negara tujuan.
Kala itu,
suka-duka sosok-sosok perempuan Cina Benteng yang kami temui di Taiwan menjadi
tulisan-tulisan terpisah sebagai bagian dari rubrik selingan.
Cina Benteng
adalah komunitas peranakan Tionghoa yang telah lama mendiami Tangerang, Banten.
Sejarah mereka terbentuk melalui gelombang migrasi dan proses pembauran yang
berlangsung berabad-abad. Pada masa lalu, banyak keluarga Cina Benteng,
terutama yang tinggal di wilayah pinggiran Tangerang, hidup dalam kemiskinan.
Mereka bekerja sebagai petani, nelayan, buruh pabrik, pedagang kecil, pengayuh
becak, atau pekerja informal lainnya.
Sejumlah kajian menggambarkan kondisi mereka sebagai kemiskinan multidimensi. Mereka sulit keluar dari kemiskinan karena keterbatasan pendidikan, akses terhadap pekerjaan formal, persoalan administrasi dan birokrasi, serta isolasi geografis.
Dalam kondisi
itu, perempuan Cina Benteng menanggung dampak yang lebih berat. Dalam struktur
sosial lama, ruang mereka terbatas di rumah: mengurus keluarga dan menjadi
penjaga berbagai tradisi leluhur. Ketika biaya pendidikan terbatas, anak
laki-laki lebih sering diprioritaskan bersekolah. Akibatnya, sebagian perempuan
tumbuh tanpa pendidikan memadai dan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.
Pengantin
pesanan menjadi salah satu titik paling ekstrem dari kondisi tersebut. Ketika
akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan modal terbatas, tubuh serta
perkawinan perempuan dapat berubah menjadi sumber daya ekonomi keluarga.
Tapi itu
cerita lama. Kondisi perempuan Cina Benteng saat ini sudah jauh berubah.
Perubahan ekonomi Tangerang, industrialisasi, dan makin terbukanya akses
pendidikan perlahan mengubah kehidupan mereka. Perempuan-peremuan itu mulai
keluar dari rumah untuk bekerja. Mereka menjadi pekerja pabrik, pedagang,
perajin, buruh cuci, dan pelaku usaha kuliner. Mereka tidak lagi hanya
mengandalkan penghasilan suami, tapi juga ikut menopang bahkan menentukan
ekonomi keluarga.
Liputan
wartawan Tempo, Savero Aristia Wienanto, ke Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten
Tangerang, yang dilakukan pekan ini juga menemukan sisi menarik lain. Para
perempuan Cina Benteng mampu memberdayakan diri lewat koperasi.
Mereka
menggunakan koperasi bukan cuma buat perekonomian. Dengan berhimpun lewat
koperasi, mereka punya kekuatan tawar politik untuk masuk ke proses pengambilan
keputusan di tingkat desa. Koperasi mereka juga memiliki divisi khusus yang
menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan.
