T. (+62) 21 86603883 Gg. Anggrek No.6, RT.5/RW.5, Cipinang Melayu, Kec. Makasar, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13620
PPSW Jakarta
Center for Women’s Resources Development in Jakarta
Judul Gambar 1
Judul Gambar 1 Caption penjelasan gambar 1
Judul Gambar 2
Judul Gambar 2 Penjelasan isi gambar 2 dan shrink aktif
Home Aktivitas

Perempuan Cina Benteng Masa Kini

 

PADA 7 Januari 2007, Tempo menurunkan laporan soal nasib perempuan Cina Benteng dalam tulisan berjudul “Meretas Nestapa Sampai ke Taiwan”. Kami menggali kisah para perempuan asal Tangerang itu yang memilih menjadi pengantin pesanan pria Taiwan demi keluar dari tekanan kemiskinan.

Dalam penelusuran yang dilakukan hingga Taiwan, kami menemukan bahwa perkawinan tersebut menjadi semacam jalan pintas ekonomi. Uang mahar yang diterima keluarga perempuan digunakan untuk berbagai kebutuhan mendesak, dari membayar utang, memperbaiki rumah, hingga membiayai sekolah anggota keluarga. Bagi keluarga yang hidup serba kekurangan, menikahkan anak perempuan dengan pria Taiwan dapat dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.

Di sisi lain, para pria Taiwan yang mencari istri juga bukan selalu berasal dari kelompok ekonomi mapan. Mereka umumnya berasal dari kelas bawah yang kesulitan mendapatkan pasangan di Taiwan. Situasi tersebut membuat posisi perempuan Cina Benteng menjadi rentan. Sebagian dari mereka berangkat ke Taiwan dalam usia relatif muda, dengan kemampuan bahasa yang terbatas dan tanpa pengetahuan memadai mengenai kehidupan di negara tujuan.

Kala itu, suka-duka sosok-sosok perempuan Cina Benteng yang kami temui di Taiwan menjadi tulisan-tulisan terpisah sebagai bagian dari rubrik selingan.

Cina Benteng adalah komunitas peranakan Tionghoa yang telah lama mendiami Tangerang, Banten. Sejarah mereka terbentuk melalui gelombang migrasi dan proses pembauran yang berlangsung berabad-abad. Pada masa lalu, banyak keluarga Cina Benteng, terutama yang tinggal di wilayah pinggiran Tangerang, hidup dalam kemiskinan. Mereka bekerja sebagai petani, nelayan, buruh pabrik, pedagang kecil, pengayuh becak, atau pekerja informal lainnya.

Sejumlah kajian menggambarkan kondisi mereka sebagai kemiskinan multidimensi. Mereka sulit keluar dari kemiskinan karena keterbatasan pendidikan, akses terhadap pekerjaan formal, persoalan administrasi dan birokrasi, serta isolasi geografis.

Dalam kondisi itu, perempuan Cina Benteng menanggung dampak yang lebih berat. Dalam struktur sosial lama, ruang mereka terbatas di rumah: mengurus keluarga dan menjadi penjaga berbagai tradisi leluhur. Ketika biaya pendidikan terbatas, anak laki-laki lebih sering diprioritaskan bersekolah. Akibatnya, sebagian perempuan tumbuh tanpa pendidikan memadai dan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.

Pengantin pesanan menjadi salah satu titik paling ekstrem dari kondisi tersebut. Ketika akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan modal terbatas, tubuh serta perkawinan perempuan dapat berubah menjadi sumber daya ekonomi keluarga.

Tapi itu cerita lama. Kondisi perempuan Cina Benteng saat ini sudah jauh berubah. Perubahan ekonomi Tangerang, industrialisasi, dan makin terbukanya akses pendidikan perlahan mengubah kehidupan mereka. Perempuan-peremuan itu mulai keluar dari rumah untuk bekerja. Mereka menjadi pekerja pabrik, pedagang, perajin, buruh cuci, dan pelaku usaha kuliner. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan penghasilan suami, tapi juga ikut menopang bahkan menentukan ekonomi keluarga.

Liputan wartawan Tempo, Savero Aristia Wienanto, ke Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang dilakukan pekan ini juga menemukan sisi menarik lain. Para perempuan Cina Benteng mampu memberdayakan diri lewat koperasi.

Mereka menggunakan koperasi bukan cuma buat perekonomian. Dengan berhimpun lewat koperasi, mereka punya kekuatan tawar politik untuk masuk ke proses pengambilan keputusan di tingkat desa. Koperasi mereka juga memiliki divisi khusus yang menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Sumber : Nurdin Saleh  https://www.tempo.co/gaya-hidup/perempuan-cina-benteng-masa-kini-2283116

Anda ada pertanyaan?

Kirim pesan ke PPSW