T. (+62) 21 86603883 Gg. Anggrek No.6, RT.5/RW.5, Cipinang Melayu, Kec. Makasar, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13620
PPSW Jakarta
Center for Women’s Resources Development in Jakarta
Judul Gambar 1
Judul Gambar 1 Caption penjelasan gambar 1
Judul Gambar 2
Judul Gambar 2 Penjelasan isi gambar 2 dan shrink aktif
Home Artikel

Feminisme, Gender, dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Refleksi Kritis Staf PPSW Jakarta

 Pada 27 Oktober 2025, staf PPSW Jakarta berkumpul di Aula Gayatri Training Center untuk mendiskusikan tema penting: Gender, Feminisme, dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan difasilitasi oleh Ibu Titik Hartini. Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan perspektif dalam kerja-kerja pemberdayaan perempuan yang selama ini dilakukan.

Memahami Perbedaan: Sex dan Gender


Jenis kelamin (sex) adalah perbedaan biologis yang melekat sejak lahir—laki-laki (XY), perempuan (XX), serta interseks yang memiliki karakteristik biologis di luar kategori biner.Sementara itu, gender adalah peran dan harapan sosial yang dilekatkan pada seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Misalnya, anggapan bahwa perempuan harus mengurus rumah tangga atau laki-laki harus selalu kuat dan tegas.

Sex adalah biologis. Gender adalah peran sosial yang dibentuk dan bisa berubah.Banyak ketidakadilan muncul bukan karena perbedaan biologis, tetapi karena konstruksi sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan.

Apa Itu Feminisme?

Feminisme adalah gerakan dan pemikiran yang memperjuangkan kesetaraan gender di bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Menurut Maggie Humm dalam The Dictionary of Feminist Theory (1990), feminisme adalah upaya mengakhiri penindasan terhadap perempuan berdasarkan keyakinan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Menjadi feminis bukan soal jenis kelamin, tetapi soal sikap dan komitmen terhadap keadilan gender. Siapa pun yang mendukung kesetaraan dapat disebut feminis.

Ragam Pemikiran Feminis & Relevansinya

Berbagai aliran feminisme memberikan cara pandang berbeda dalam memahami ketidakadilan dan strategi perubahan: Feminisme Liberal – diperjuangkan oleh tokoh seperti Mary Wollstonecraft dan John Start Mill, menekankan kesetaraan akses pendidikan, hukum, dan pekerjaan. Feminisme Radikal – seperti gagasan Kate Millett, melihat patriarki sebagai akar penindasan perempuan. Feminisme Marxis/Sosialis – dipengaruhi pemikiran Friedrich Engels, menyoroti hubungan kapitalisme dan ketimpangan gender, termasuk kerja domestik yang tidak dibayar.Feminisme Islam – dipelopori oleh tokoh seperti Amina Wadud, menegaskan bahwa nilai keadilan dalam Islam mendukung kesetaraan gender. Semua pendekatan ini memberi kontribusi penting dalam memahami bagaimana perempuan dapat berdaya secara ekonomi secara lebih adil dan menyeluruh.

Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Lebih dari Sekadar Pendapatan

Menurut Naila Kabeer (1999), pemberdayaan adalah proses ketika perempuan memiliki kemampuan membuat pilihan strategis dalam hidupnya. Artinya, pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal peningkatan penghasilan, tetapi juga memiliki akses dan kontrol atas sumber daya (tanah, modal, usaha). Terlibat dalam pengambilan keputusan. Mengalami perubahan relasi kuasa di rumah tangga dan masyarakat. Memiliki kesadaran kritis untuk menolak ketidakadilan.  Didukung oleh kebijakan dan sistem yang adil gender. Tanpa perubahan norma dan struktur patriarki, peningkatan pendapatan belum tentu membuat perempuan benar-benar berdaya.

Mengapa Ini Penting bagi PPSW Jakarta?

Bagi PPSW Jakarta, perspektif feminis menegaskan bahwa Pemberian modal saja tidak cukup. Pelatihan keterampilan harus diiringi perubahan kesadaran dan relasi kuasa. Perempuan perlu menjadi subjek dan pengambil keputusan, bukan sekadar penerima manfaat.Dengan pendekatan ini, pemberdayaan ekonomi menjadi bagian dari perjuangan keadilan sosial yang lebih luas.

 

Pemberdayaan ekonomi perempuan berhasil ketika perempuan memiliki akses, kontrol, dan kuasa atas sumber daya; ketika relasi gender menjadi lebih setara; serta ketika perempuan menjadi agen perubahan di komunitasnya. Diskusi ini menegaskan bahwa feminisme bukan sekadar wacana, melainkan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil, setara, dan berdaya.

Anda ada pertanyaan?

Kirim pesan ke PPSW