BALAI CERITA BUNGA RAMPAI MEMULIHKAN LUKA LEWAT CERITA
Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius di berbagai lapisan masyarakat. Mengingat kasus kekerasan masih tinggi di tahun 2025, tercatat di SIMFONI-PPA ada 17.355 kasus kekerasan. Kasus kekerasan di dominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual. Banyak korban memilih diam karena takut disalahkan, merasa malu, masih dianggap tabu dan kekhawatiran cerita mereka tidak dipercaya, Seituasai ini membuat korban seringkali memendam trauma sendirian.
Menemukan ruang aman bagi penyintas kekerasan bukan sekedar slogan kosong, upaya untukmewujudkannya menjadi tantangan besar. Sebagai bentuk nyata berkontribusi menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan, lahirlah “Balai Cerita Bunga Rampai” sebagai ruang aman bagi penyintas kekerasan berbagi cerita tentang kekerasan yang pernah dialami, dengan koordinator satgas pencegehan kekerasan yang ada di tiap Koperasi Dampingan PPSW Jakarta. Balai Cerita Bunga Rampai menjadi ruang untuk perempuan merasa aman, dihargai, didukung, didengarkan dan bebas dari rasa takut akan kekerasan, pelecehan atau diskriminasi.
Balai Cerita Bunga Rampai dibentuk dari kesadaran bersama bahwa perempuan korban kekerasan membutuhkan ruang yang tidak hanya sekedar tempat bercerita, tetapi juga ruang yang memberikan rasa aman. Seringkali korban menghadapi stigma sosial, victim blaming atau tekanan dari orang terdekat yang membuat mereka memilih untuk diam. Kondisi ini tidak hanya memperparah trauma, tetapi juga menghambat upaya pemulihan. Oleh karena itu Balai Cerita Bunga Rampai hadir sebagai ruang alternatif yang menempatkan empati, solidaritas dan keberanian untuk para penyintas kekerasan bersuara.
Dalam kegiatan Balai Cerita Bunga Rampai, perempuan dapat berbagi cerita mengenai kasus kekerasan yang dialaminya kepada koordinator satgas pencegahan kekerasan. Balai Cerita Bunga Rampai juga melibatkan peran koperai serta pengurus koperasi sebagai pendamping yang memiliki sensitivitas terhadap isu kekerasan terhadap permepuan dan menciptakan suasana yang aman dan memfasilitasi dialoh yang sehat dan memberikan dukungan kepada penyintas korban kekerasan. Selain itu Balai Cerita Bunga Rampai juga menjalin kerja sama dengan satgas pencegahan kekerasan di tingkat kelurahan dan kecamatan untuk memastikan bahwa perempuan yang membutuhkan bantuan lebih lanjut dapat memperoleh akses terhadap layanan hukum, Kesehatan maupun konseling.
Sampai pada Desember tahun 2025, Balai Cerita Bunga Rampai di 20 Koperasi dampingan PPSW Jakarta telah mendapatkan cerita 244 kasus kekerasan, terdiri dari 115 kasus kekerasan fisik, 33 kasus kekerasan psikis, 84 kasus kekerasan ekonomi dan 2 kasus kekerasan seksual dari anggota dan masyarakat.
Kehadiran Balai Cerita Bunga Rampai diharapkan menjadi Langkah kecil namun berarti dalam upaya melawan budaya diam yang sering mengelilingi kasus kekerasan terhadap perempuan. Dengan menyediakan ruang aman untuk bercerita, perempuan tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi pengalaman traumatis yang mereka alami. Balai Cerita Bunga Rampai menjadi simbol keberanian, solidaritas dan harapan. Pada akhirnya, setiap cerita yang diungkapkan bukan hanya tentang luka, tetapi juga tentang pemuihan dan Langkah menuju masa depan yang lebih baik.


